Saturday, February 23, 2008

Bilangan Reynolds

Dalam mekanika fluida, bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vsρ) terhadap gaya viskos (μ/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Bilangan ini digunakan untuk mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya laminar dan turbulen. Namanya diambil dari Osborne Reynolds (1842–1912) yang mengusulkannya pada tahun 1883. Bilangan Reynold merupakan salah satu bilangan tak berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya dengan bilangan tak berdimensi lain, untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang berbeda dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan, keduanya disebut memiliki kemiripan dinamis.
Rumusan Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

dengan:
vs - kecepatan fluida, L - panjang karakteristik, μ - viskositas absolut fluida dinamis, ν - viskositas kinematik fluida: ν = μ / ρ, ρ - kerapatan (densitas) fluida. Misalnya pada aliran dalam pipa, panjang karakteristik adalah diameter pipa, jika penampang pipa bulat, atau diameter hidraulik, untuk penampang tak bulat.
Pustaka
1. Fouz, Infaz (2001), Fluid Mechanics, Mechanical Engineering Dept., University of Oxford
2. Hughes, Roger (1997), Civil Engineering Hydraulics, Civil and Environmental Dept., University of Melbourne
3. Jermy, M. (2005), Fluid Mechanics A Course Reader, hlm.d5.10: Mechanical Engineering Dept., University of Canterbury
4. Rott, N. (1990), "Note on the history of the Reynolds number", Annual Review of Fluid Mechanics 22: hlm. 1–11
5. Zagarola, M.V. & A.J. Smits (1996), "Experiments in High Reynolds Number Turbulent Pipe Flow", AIAApaper #96-0654, 34th AIAA Aerospace Sciences Meeting, Reno, Nevada, January 15 - 18, 1996

Thursday, July 12, 2007

Biodiesel VS Minyak Goreng

Tidak semata2 PERMINTAAN secara langsung mempengaruhi harga?? Ketersediaan barang (kapasitas produksi) kan berpengaruh juga?? harga beras naik, bukan (hanya) karena permintaan terhadap beras naik.Tapi (mungkin) juga karena produksi turun. Kembali ke Biodisel VS Minyak Goreng... Produksi CPO Nasional (yang sebelumnya diperuntukkan bagi bahan baku minyak goreng dan produk turunannya) masih konstan,namun pabrik2 pengolahan Biodisel sudah didirikan. Sebagian bahan baku yang tadinya untuk minyak goreng, diolah di pabrik ini menjadi Biodiesel. Otomatis produksi minyak goreng turun. Inilah yang disebut PMII, (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di situsnya sebagai kebijakan SBY-JK serampangan. Produksi CPO yang sehausnya untuk minyak goreng dialihkan ke Biodisel tanpa kontrol. Otomatis, kebutuhan minyak goreng di pasar domestik, tidak terpenuhi. Hubungannya dengan kebutuhan bahan bakar di Eropa? Saat ini sedang gencar2nya kawasan Eropah melakukan konversi BB Fosil (yang tidak terbarukan) ke Biodiesel (terbarukan). Mereka mendirikan pabrik Biodiesel, yang bahan bakunya didatangkan dari Negara-negara penghasil CPO seperti Indonesia... Saya berasumsi, (Masih asumsi belum ada data dan analisis). harga CPO di pasaran internasional yang terus melambung belakangan ini adalah permainan Eropa dan Amerika untuk "MERANGSANG" Negara2 pernghasil CPO meningkatkan produksi CPO nya (baca : menambah luasan kebun Kelapa Sawit). Tujuannya adalah, jika Amerika dan Eropa sudah sempurna melakukan konversi BB fosil ke Biodisel (termasuk fasilitas pendukungnya), sudah ada jaminan ketersediaan bahan baku. Sedikit melebar.. Hal ini berbahaya bagi lingkungan hidup. Akan terjadi konversi Hutan menjadi Kebun Kelapa Sawit. Saat ini saja, konversi Hutan menjadi Kebun Kelapa Sawit Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan beberapa wilayah di Sumatera masih terus terjadi (di Brazil saya tidak ada informasi). Jika ini terus berlangsung, es di kutup akan lebih cepat mencair akibat pemanasan global...daerah pinggiran pantai akan terendam.